Risalah Hukum Bernyanyi Dengan Menggunakan Al Qur’an (Risalah Fi Hukmil Ghina Bil Qur’an) – 2

PASAL PERTAMA

SISI KETIGA

Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menuturkan bahwa menjadikan ayat-ayat Allah sebagian perolok-olokan dan permainan itu adalah tergolong sifat kaum munafiqin, di mana Dia berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang Telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (Al Maidah: 57).

Dan berfirman:

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah Karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal” (Al Maidah: 58)

Dan berfirman:

“Tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.” (Al Kahfi: 56)

Dan berfirman tentang orang-orang kafir:

“Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.” (Al Kahfi: 106)

Dan berfirman:

“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (Al Jatsiyah: 9)

Dan berfirman:

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, Maka pada hari Ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.” (Al Jatsiyah: 35)

Barangsiapa menyanyikan ayat-ayat Allah, maka dia itu telah menjadikannya sebagai buah ejekan dan permainan sebagaimana hal itu adalah yang nampak.

Al Qurthubiy rahimahullah berkata: 3/157: (Dikatakan bagi orang yang melecehkan ayat-ayat Allah bahwa dia itu telah menjadikannya sebagai bahan perolok-olokan, dan hal itu dikatakan kepada orang yang kafir terhadapnya, dan hal itu dikatakan pula kepada orang yang mencampakkannya dan tidak mengambilnya dan malah mengamalkan yang lainnya).

SISI KEEMPAT

Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadits (perkataan yang tidak berguna) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman: 6)

Dan telah sah dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas serta yang lainnya radliyallaahu ‘anhum penafsiran lahwal hadits di sini bahwa itu adalah ghina (nyanyian), bahkan Ibnu Mas’ud bersumpah tiga kali terhadap hal itu. Sedangkan laam di sini[2] adalah memiliki dua makna tergantung nyanyian itu:

Pertama: Bila nyanyian itu tidak dimaksudkan untuk menghalang-halangi dari jalan Allah dengannya, maka laam di sini adalah untuk makna akibat, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (Al Qashash: 8)

Maknanya bahwa akibat akhir dari nyanyian itu adalah menghalang-halangi dari jalan Allah, dan ini adalah bersumber dari kaum muslimin yang bermaksiat.

Kedua: Bila nyanyian itu dimaksudkan dengannya untuk menghalang-halangi dari jalan Allah, maka laam di sini adalah untuk menjelaskan alasan (ta’lil), dan ini adalah bersumber dari orang-orang kafir.

Jadi di sini Dia menyebutkan bahwa orang yang bernyanyi itu keadaannya atau akibat akhirnya adalah kepada penghalang-halangan dari jalan Allah atau menjadikan jalan Allah itu sebagai bahan perolok-olokan, sedangkan di sini dia itu hanyalah menyanyikan sya’ir atau ungkapan biasa, maka bagaimana bila yang dinyanyikan itu adalah dari ayat-ayat Al Qur’anul Karim?!

Maka tidak ragu lagi bahwa dia (yaitu orang yang menyanyikan ayat Al Qur’an) itu adalah masuk di dalam sikap menjadikannya sebagai bahan perolok-olokan secara langsung, sedangkan sifat itu adalah tidak bersumber kecuali dari orang kafir.

SISI KELIMA

Bahwa para ulama telah ijma bahwa melecehkan Al Qur’an itu adalah kekafiran dan kemurtaddan.

Assafariniy berkata di dalam Ghidzaaul Albab 1/414: (Al Imam An Nawawi berkata di dalam At Tibyan dan Ibnu Muflih di dalam Al Aadaab serta yang lainnya: (Kaum muslimin telah ijma terhadap kewajiban mengagungkan Al Qur’anul ‘Adhim secara muthlaq, memuliakannya serta menjaganya. Dan mereka ijma bahwa barangsiapa mengingkari satu huruf dari apa yang sudah diijmakan terhadapnya, atau menambahkan satu huruf yang tidak ada di dalam qira’ah siapapun sedangkan dia mengetahui hal itu, maka dia itu kafir. Al Qadli ‘Iyadl berkata: Ketahuilah bahwa barangsiapa melecehkan Al Qur’an atau mushhaf atau sesuatu darinya, atau dia mengingkari satu huruf darinya, atau mendustakan sesuatu yang jelas di dalamnya baik itu berbentuk hukum atau khabar, atau dia menetapkan apa yang dinafikannya atau menafikan apa yang telah ditetapkannya sedangkan dia mengetahui hal itu, atau dia meragukan sesuatu dari hal itu, maka dia itu kafir dengan ijma kaum muslimin).

Menyanyikan Al Qur’an atau sesuatu darinya adalah pelecehan terhadapnya, seandainya ada seorang raja mengeluarkan instruksi yang tertulis yang dengannya dia memerintahkan rakyatnya untuk melakukan suatu atau melarang mereka dari sesuatu, terus salah seorang dari mereka menyanyikan (teks) instruksi itu, tentulah perbuatannya ini dianggap sebagai pelecehan terhadap raja dan perintahnya, dan sudah barang tentu dia diberi sangsi hukuman yang berat.

SISI KEENAM

Bahwa di sana ada nash-nash sebagian para ulama di dalam masalah ini, dan saya akan menuturkan darinya:

Ibnu Nujaim Al Hanafi berkata di dalam Al Bahrur Raaiq 5/130 bahasan hal-hal yang mengkafirkan: (Dan dengan meletakkan kaki di atas mushhaf saat bersumpah seraya melecehkannya, dan membaca Al Qur’an dengan tabuhan rebana atau bambu).

Dan di dalam Al Fatawa Al Hindiyyah 2/267: (Bila membaca Al Qur’an dengan tabuhan rebana dan bambu maka dia kafir).

Dan di dalam Majma’ul Anhur 1/693: (Dan di dalam Fushul ‘Imadiyyah bila membaca Al Qur’an dengan tabuhan rebana dan bambu maka dia kafir).

Dan di dalam Bariqah Mahmudiyyah 2/61: (orang yang melecehkan Al Qur’an atau satu huruf darinya atau melemparkan mushhaf ke comberan atau mengingkari satu huruf darinya atau mendustakannya atau menafikan apa yang ditetapkannya atau menetapkan apa yang dinafikannya atau mengganti satu huruf darinya atau menambahkannya atau membacanya dalam rangka mainan dengan memakai rebana).

Dan di dalam Lisanul Hukkam hal 416: (Seorang yang membaca (Al Qur’an) dengan tabuhan rebana atau bambu maka dia kafir karena dia itu melecehkan Al Qur’an).

Saya berkata: Maka lihatlah pernyataan mereka, yaitu seandainya orang membaca Al Qur’an dengan tabuhan rebana atau bambu maka dia kafir, padahal sesungguhnya rebana itu adalah mubah di beberapa keadaan seperti nyanyian pernikahan, sedangkan bambu maka Ibnu Qudamah berkata tentangnya di dalam Al Mughni 10/174: (Adapun menabuh bambu maka hukumnya adalah dibenci bila disertai hal yang diharamkan atau hal yang dibenci seperti tepuk tangan, nyanyian dan tarian, dan bila tidak disertai hal itu semua maka ia tidak dibenci, karena ia adalah bukan alat musik, dan ia itu tidak ditabuh dan tidak didengarkan secara menyendiri, beda halnya dengan alat musik).

Bila saja menyanyikan Al Qur’an atau sebagiannya disertai tabuhan suatu yang pada hukum asalnya adalah mubah – seperti bambu – atau ia mubah di dalam beberapa keadaan -seperti rebana – adalah kekafiran dan kemurtaddan menurut para ulama itu, maka bagaimana bila disertai suatu yang memang haram berdasarkan ijma seperti gitar dan yang serupa itu?!

SISI KETUJUH

Bahwa menyanyikan Al Qur’an itu adalah perolok-olokan terhadapnya yang berlapis dari dua sisi:

Sisi Pertama: Bahwa nyanyian itu sendiri adalah lahwun (senda gurau) dan permainan berdasarkan ijma – termasuk menurut kesaksian ahli ilmu yang syadz (memiliki pendapat ganjil) yang membolehkannya yaitu Ibnu Hazm – di mana beliau telah menamakan tulisannya yang membolehkan nyanyian dengan judul (Risalah Fil Ghina Al Mulhi A Mubah Am Mahdhur) – Majmu’ah Rasaail-nya 4/417, di mana beliau menamakannya mulhi (yang melalaikan) sebagaimana yang engkau lihat, sedangkan menyanyikan Al Qur’an adalah menjadikannya sebagai lahwun (gurauan) dan mempermainkannya – wal ‘iyadzu billah -.

Sisi Kedua: Bahwa ulama telah ijma – sebelum muncul pendapat ganjil Ibnu Hazm – terhadap keharaman nyanyian, dan pernyataan mereka dalam hal ini adalah sangat banyak. Dan telah menukil ijma ini banyak ulama, di antaranya: Ibnul Mundzir, Ibnu Abdil Barr, Ibnul Jauziy, Al Qadli ‘Iyadl, Ibnu Qudamah, Ibnu Ash Shalah, An Nawawiy, Al Qurthubiy, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Muflih, Ibnu Rajab, Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Ibnu Hajar Al Haitami serta yang lainnya, bahkan lebih dasyat dari hal itu adalah bahwa Al Qadli ‘Iyadl dan Al Kafiy At Tunisiy telah menukil ijma terhadap kekafiran orang yang menghalalkan nyanyian.[3]

Bila saja nyanyian telah datang celaannya dan pengharamannya di dalam Al Kitab, dan Assunnah serta ulama telah ijma terhadapnya, maka sesungguhnya menyanyikan Al Qur’an adalah penambahan penyepelean terhadap pengharaman ini – termasuk andaikata nyanyian itu dilakukan dalam rangka serius dan bukan dalam rangka senda gurau dan permainan -, dan ia itu seperti mengucapkan bismillah saat minum khamr – wal ‘iyadzu billah -, karena sesungguhnya pengucapan basmalah itu adalah disyari’atkan, namun pengucapan basmalah saat meminum khamr adalah pelecehan terhadap Nama Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mengharamkan khamr itu, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama bahwa andaikata seseorang bila meminum khamr dan membaca bismillah atau mengatakannya saat berzina maka dia itu kafir.[4] Di mana ia adalah perolok-olokan dari sisi mempermainkan Al Qur’an dan dari sisi menyepelekan pengharaman.

.

Bersambung

.

————————————————————————–

[2] Yaitu yang ada di dalam kalimat “Liyudlilla”. (pent).

[3] Dan ini adalah tidak benar, dan silahkan lihat nukilan dari mereka secara rinci di dalam Fashlul Khithab 157-164.

[4] Lihat Lisanul Hukkam 416.

.

(KabarDuniaIslam/millahibrahim.wordpress.com)

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s