Risalah Hukum Bernyanyi Dengan Menggunakan Al Qur’an (Risalah Fi Hukmil Ghina Bil Qur’an) – 1

Oleh: Syaikh Nashir Ibnu Hamd Al Fahd
Alih Bahasa: Abu SulaimanBISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMSegala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, wa ba’du:

Ini adalah risalah yang singkat tentang hukum menyanyikan Al Qur’an (ghinaaul qur’an) yang telah saya susun dalam dua pasal:

PASAL PERTAMA: Hukum ghina (bernyanyi) dengan ayat-ayat Al Qur’anul Karim.

PASAL KEDUA: Sya’ir atau Natsr (prosa/ungkapan yang bukan sya’ir) memuat sesuatu dari Al Qur’an serta hukum hal itu.

.

PASAL PERTAMA

Hukum Ghina (Bernyanyi) Dengan Ayat-Ayat Al Qur’anul Karim

Barangsiapa menyanyikan Al Qur’an atau sesuatu dari Al Qur’an, maka dia itu telah melakukan dosa yang sangat besar, yang dalam banyak keadaan bisa sampai pada tingkat kemurtaddan dari islam – wal ‘iyadzu billa -, tergantung qarinah (indikasi) dan keadaan yang menyertai nyanyian itu, umpamanya nyanyian itu dalam rangka istihza (perolok-olokan), lahwun (main-main) dan bercanda, atau dalam rangka meremehkannya atau hal-hal serupa itu. Dan penjelasan hal ini adalah dari beberapa sisi:

SISI PERTAMA

Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menyertakan antara perolok-olokan ayat-Nya dengan kekafiran dan pendustaan, di mana hal ini menunjukkan bahwa setiap orang yang memperolok-olok ayat Allah itu adalah kafir lagi mukadzdzib (mendustakan). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Kemudian akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya”.(Ar Ruum: 10)

Di Mana Allah di sini menyertakan antara pendustaan ayat-ayat-Nya dengan perolok-olokan terhadapnya, dan Dia menjadikan akibat orang-orang yang mengerjakan hal ini adalah Jahannam – wal ‘iyadzu billah-.

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan sungguh Allah Telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu bila mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam”(An Nisa: 140)

Di sini Allah menyertakan antara kekafiran terhadap ayat-ayat-Nya dengan perolok-olokan terhadapnya.

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu mencari-cari alasan, karena kamu kafir sesudah beriman”(At Taubah: 65-66).

Telah ada di dalam seba nuzul ayat ini dari Abdullah Ibnu Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata: Seorang laki-laki berkata di dalam perang Tabuk – di suatu majelis – : Saya tidak pernah melihat orang yang seperti para qurra kita itu, mereka paling banyak makannya, paling dusta lisannya dan paling penakut saat bertemu dengan musuh,” maka seorang laki-laki di mesjid itu berkata: Kamu dusta, justeru kamu adalah orang munafiq, sungguh saya akan mengabarkannya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,” maka hal itupun sampai kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sedangkan Al Qur’an sudah turun, maka Abdullah Ibnu Umar berkata: Saya melihat dia memegangi tali pelana unta Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya bebatuan mengenainya sedang dia berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja,” sedang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata:” “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

Al Jashshash berkata tentang ayat ini 3/207: (Ini menunjukan juga bahwa istihza (perolok-olokan) terhadap ayat-ayat Allah atau terhadap sesuatu dari ajaran agama-Nya adalah kekafiran dari pelakunya).

Ibnu Qudamah berkata di dalam Al Mughni 9/33: (Barangsiapa menghina Allah subhanahu wa ta’ala maka dia kafir baik dia itu bercanda maupun serius. Dan begitu juga orang yang memperolok-olok Allah subhanahu wa ta’ala atau ayat-ayat-Nya atau rasul-rasul-Nya atau kitab-kitab-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“ Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu mencari-cari alasan, karena kamu kafir sesudah beriman.”(At Taubah: 65-66).

Dan seyogyanya keberadaan dia kembali kepada islam itu tidak dianggap cukup, sampai terlebih dahulu dia dikasih pelajaran (sangsi) dengan sangsi yang membuatnya jera dari hal itu, karena sesungguhnya bila tidak dianggap cukup dari orang yang menghina Rasulullah itu dengan sekedar taubat saja, maka tentunya orang yang menghina Allah subhanahu wa ta’ala adalah lebih utama (untuk dianggap cukup dengan taubat saja)).

Sedangkan penjelasan penunjukan ayat ini terhadap kekafiran orang yang menyanyikan sesuatu dari Al Qur’an dalam rangka lahwun (main-main) dan senda gurau dengannya serta hal-hal serupa itu, maka adalah dari beberapa sisi:

Pertama: Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengaitkan kekafiran di dalam Firman-Nya” karena kamu kafir sesudah beriman”terhadap perolok-olokan kepada Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya.

Kedua: Bahwa orang-orang tersebut telah nampak nyata bahwa diri mereka – atau sebagian mereka – itu adalah tidak mengetahui hukum perolok-olokan ini, oleh karenanya Allah memaafkan sebagian mereka yang taubat, namun demikian mereka itu sebelumnya sudah kafir, maka bagaimana halnya dengan orang yang dalam rangka main-main dan bersenda gurau menyanyikan sesuatu yang telah terpatri di dalam fithrah kaum muslimin baik tua maupun muda, baik sunni maupun ahli bid’ah (kewajiban) untuk menghormatinya mengagungkannya dan memuliakannya serta mengangkatnya dari kotoran dan tempat-tempat najis?!

Ketiga: Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berkata tentang mereka prihal pengutaraan alasan yang mereka kemukakan ““Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja” sedangkan sudah diketahui semua kalangan bahwa ucapan yang bukan sya’ir (ungkapan biasa) itu terbagi menjadi dua bagian: Serius (betulan) dan bercanda, namun walaupun demikian sesungguhnya Allah tidak mendustakan mereka di dalam pengakuan bahwa mereka itu bersenda gurau dan bermain-main saja, namun justeru Allah menjadikan sikap permainan mereka ini sebagai bentuk perolok-olokan. Sedangkan ghina (nyanyian) yang melalaikan dengan memakai Al Qur’an itu adalah hanya satu bagian saja, yaitu termasuk gurauan dan main-main.

Keempat: Bahwa mereka itu menjadi kafir padahal mereka itu sama sekali tidak menyebutkan Allah subhanahu wa ta’ala, Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula ayat-ayat Al Qur’an, namun Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan ucapan mereka tentang sahabat Rasulullah itu sebagai bagian dari istihza (perolok-olokan) terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, dan Dia menjadikannya sebagai kekafiran setelah dia beriman, maka bagaimana halnya dengan orang yang menyanyikan ayat-ayat Al Qur’an dan dia memainkannya dengan disertai gitar atau alat-alat yang serupa itu?!

SISI KEDUA

Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah meniadakan kebatilan dan senda gurau dari Kitab-Nya yang mulia, di mana Dia berfirman:

“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau.” (Ath Thariq: 13-14)

Ibnu Abbas berkata: (Senda gurau) adalah kebatilan.

Mujahid berkata: (Senda gurau) adalah permainan.[1]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah Kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”(Fushshilat: 41-42)

Sedangkan nyanyian itu adalah termasuk kebatilan dan permainan, dan Al Bukhari rahimahullah telah menetapkan di dalam Kitab Shahihnya satu bab yang beliau juduli (Setiap permainan itu adalah kebatilan bila menyibukan dari keta’atan kepada Allah).

Al Qasim Ibnu Muhammad Ibnu Abi Bakar rahimahullah berkata: (Nyanyian itu adalah kebatilan, sedangkan kebatilan itu adalah di neraka).

Dan Mujahid menamakan nyanyian itu sebagai kebatilan.

Dan Asy Syafi’iy berkata: (Nyanyian itu adalah makruh (dibenci) yang menyerupai kebatilan).

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah Ibnu ‘Amr radliyallaahu ‘anhuma berkata: (Sesungguhnya Allah menurunkan al haq untuk melenyapkan kebatilan dengannya, dan untuk menggugurkan permainan, tarian, seruling, mizhar dan kibarat dengannya). Mizhar adalah gitar yang dimainkan, sedangkan kibarat adalah kecapi dan ada yang mengatakan bahwa ia adalah rebana sebagaimana yang ditafsirkan oleh sebagian ulama tabi’in.

Bila Allah subhanahu wa ta’ala telah menegaskan bahwa Al Qur’an itu “adalah tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya,” oleh sebab itu barangsiapa menyanyikannya atau menyanyikan sesuatu darinya, maka dia itu telah melakukan pembangkangan terhadap Al Qur’an dengan perbuatannya itu.

Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari ‘Imran Ibnu Abdillah Ibnu Thalhah bahwa seorang laki-laki membaca Al Qur’an dengan mendayu-dayu di mesjid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadlan, maka Al Qasim mengingkari hal itu dan berkata: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah Kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”(Fushshilat: 41-42)

Maka coba perhatikan bagaimana tabi’iy yang mulia ini menjadikan pembacaan Al Qur’an dengan mendayu-dayu sebagai kebatilan, padahal dia itu tidak bermain-main dan tidak bersenda gurau dengannya, dan beliau mengingkari orang yang melakukannya? Maka bagaimana dengan orang yang menyanyikan Al Qur’an dengan disertai alat musik?!.

.

Bersambung

.

————————————————————————–

[1] Tafsir Ath Thabari 30/150.

.

(KabarDuniaIslam/millahibrahim.wordpress.com)

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s