Trilogi Maulid Nabi Muhammad – Napak Tilas Perayaan Maulid Nabi (3)

4. Aksi-Aksi Mereka

1. Mereka mengadakan peringatan maulid secara umum dan maulid Nabi secara khusus, terjadi pada masa kepemimpinan Al Ubaidiyyun, yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh siapapun.

Al Maqrizi berkata:[1]

“Dengan adanya peringatan-peringatan yang dijadikan oleh kelompok Fatimiyyun sebagai hari raya dan pesta seperti itu KEPEMIMPINAN mereka bertambah luas dan mereka mendapat keuntungan yang banyak. Para pemimpin Fathimiyah, memiliki banyak hari raya dan peringatan setiap tahunnya, diantaranya adalah peringatan / perayaan:

  1. Peringatan akhir tahun, awal tahun, Hari Asyura,
  2. Peringatan Maulid Nabi, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Hasan, Maulid Husein, Maulid Fathimah Az Zahra, Maulid raja yang sedang menjabat.
  3. Peringatan awal bulan Rajab, malam pertengahan bulan Rajab
  4. Malam awal bulan Sya’ban, malam Nisfu’ Sya’ban
  5. Awal bulan Ramadhan, pertengahan Ramadhan, akhir Ramadhan
  6. Hari raya Idul Fitri & Hari Raya Idul Adha*
  7. Upacara kematian
  8. Menyambut musim hujan & musim kemarau
  9. Peringatan penaklukan teluk
  10. Peringatan hari Nairuz
  11. Hari ulang tahun
  12. Hari Kamisan, Hari rukubat, dsb

Setelah itu Al Maqrizi berbicara tentang bagaimana setiap upacara & perkumpulan itu dilaksanakan.

Merekalah orang yang pertama kali membuka pintu perkumpulan bid’ah dengan berbagai macamnya, hingga mereka berkumpul untuk mengadakan peringatan hari raya Majusi dan Kristen seperti Paskah, Kenaikan Isa Al Masih, Natal dsb. Semua ini menunjukkan jauhnya mereka dari Islam dan memusuhi islam walaupun tidak mereka tampakkan secara lahir.

Semua itu juga menunjukkan bahwa mereka menghidupkan ke-6 upacara maulid diatas -diantaranya maulid Nabi- bukan karena cinta kepada Rasulullah dan keluarganya seperti yang mereka nyatakan, tetapi tujuan mereka menyebarluaskan aliran Ismailiyah Bathiniyah yang mereka anut dan aqidah rusak mereka di kalangan manusia serta menjauhkan mereka dari agama yang benar dan aqidah yang murni dengan acara mengada-adakan upacara-upacara semacam itu, menyuruh manusia menghidupkannya, memberikan semangat, dan agar mereka mendapatkan keuntungan harta melalui jalan tersebut.

2. Sangat ramah, menampakkan kasih sayang kepada ahlul kitab, Yahudi & Nashrani memberi kesempatan luas kepada mereka, mengunjungi gereja-gereja, memberikan sumbangan kpd para pendeta-pendeta.

Sebaliknya kepada Ahlus Sunnah tampak kebencian mereka. Mereka melaknat 3 khalifah besar Abu Bakar, Umar dan Utsman dan shahabat-shahabat lainnya, karena anggapan mereka para shahabat tsb adalah musuh-musuh Ali. Sementara keutamaan Ali dan anak keturunanya ditulis diatas papan-papan besi dan dinding-dinding masjid.

3. Mewajibkan seluruh pegawai pemerintahan menganut mazhab Ubaidiyah (Ismailiyah) Bathiniyah, menetapkan undang-undang atas dasar keyakinan tersebut. Untuk bisa menjadi pejabat pemerintahan disyaratkan masuk dalam mazhab Syi’ah.

4. Kebijakan politis kelompok Ubaidiyyun diarahkan untuk mencapai satu tujuan[2] yaitu mengajak manusia agar menganut aliran mereka, sehingga mereka bisa berkuasa di seluruh negeri Mesir dan sekitarnya. Telah dijelaskan pula bahwa upacara Maulid Nabi itu bukan didasari rasa cinta kepada Rasulullah dan keluarganya, akan tetapi satusatunya adalah tercapainya tujuan politis mereka menyebarkan mazhab Ismailiyah Bathiniah.

Untuk menarik perhatian seluruh manusia, mereka mengadakan perayaanperayaan secara lahir menampakkan kemulyaan, yaitu dengan memberikan penghargaan berupa uang, hadiah kepada para penyair, penulis kerajaan dan ulama, sedekah kepada orang miskin, dan mengadakan pesta. Semua dalam rangka menarik manusia agar mereka masuk dalam mazhabnya.

Tambahan: Mereka pula yang banyak mendirikan kuburan-kuburan (palsu) untuk diambil tabaruk dan diziarahi. Sebagian besar kuburan di Mesir adalah dibangun oleh Daulah Fathimiyah.[3]

Bersambung…

Referensi: Kafirnya Daulah Ubaidiyah Mesir


[1] Al Khuthath Al Muqriziyah II: 490

[2] yang diupayakan dengan sungguh-sungguh

[3] Al Khuthath Al Muqriziyah II: 490 [1] Lihat Firqotun Najiyah, Syaik Zamil Zainu bab Kuburan yang diziarahi cat kaki: Ibnu Katsier Al Bidayah wan Nihayah XI/346.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s