Trilogi Maulid Nabi Muhammad – Napak Tilas Perayaan Maulid Nabi (2)

3. Siapakah Al-Ubaidiyuun Al-Qaddah???

Dengan mengetahui latar belakang penggagas bid’ah maulid ini, akan dapat menyingkap siapa dan apa maksud dari apa yang mereka lakukan. Dan inilah mereka:Silsilah Raja-raja Al Ubaidiyyun Al Qaddah:[1]
1.    Nenek moyang mereka adalah Ibnu Dishan Al Qaddah, peletak dasar aliran Bathiniah.[2]

2.    Ubaidillah (Al Mahdi) 200H-297H-322H yaitu: Said bin Husain bin Ahmad bin Abdillah bin Maimun bin Dishan Al Qaddah Dia mengubah nasab mengaku-ngaku keturunan Hasan bin Muhammad bin Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq.Imam Suyuti dalam Tarikh Khulafa’ berkata:

“. . . bahkan sejatinya kakek mereka adalah Majusi”.

Al Qadhi Abu Bakar Al Baqilani mengatakan:

“Al Qaddah, yakni kakek Ubaidillah yang menamakan dirinya Al Mahdi sejatinya dia adalah seorang MAJUSI”.

Al Mahdi Ubaidillah adalah seorang yang beraliran kebatinan yang buruk dan bersemangat sekali menghapus agama Islam. Dia suka membunuh para ulama dan para fuqaha, serta hobi menyesatkan manusia ke jalan yang salah. Anak-anaknya persis dia. Mereka meniru sikapnya, mereka berani memperbolehkan minum arak, seks bebas, dan suka menyebarkan kekacauan.

Adz-Dzahabi juga mengatakan:

“Para peneliti dan pengamat sejarah sepakat bahwa sesungguhnya Ubaidillah Al Mahdi bukan orang baik. ”

3.    Muhammad (Al Qaim Biamrilllah) bin Ubaidillah (322H-333)

Adz-Dzhahabi mengatakan:

“Al Qaim bin Al Mahdi bahkan lebih jahat daripada ayahnya. Dia adalah salah seorang ZINDIQ, seorang terkutuk, dan berani mencaci maki para nabi secara terang-terangan. ”

4.     Ismail (Al Manshyur) bin Muhammad (Al Qaim) (333 -340)

5.    Mu’ad (Al Muiz Billah) (Lidinillah) bin Ismail bin Muhammad (Al Qaim) (341-365H) Memasuki negeri Mesir Ramadhan 362H, berkuasa hanya 2, 5 tahun di Mesir, sebelumnya di Magrib (Maroko) 45 tahun. Dia memiliki keteguhan, kekuatan dan keinginan yang keras, tapi dia peramal yang menampakkan faham Rafidhah dan menyembunyikan kekafiran. Raja Ubaidiyyun pertama di Mesir, yang memulai pembangunan ibukota di Qahiroh Mesir lewat panglima Jauhar al Siqili ditahun 358H, dan pada tahun 362H pindah dari Kairwan (Tunisia) ke Mesir. Amat ramah kepada Yahudi & Nasrani. Pada masanya diresmikan Perguruan Tinggi Al Azhar yang selesai dibangun 361H, dengan kurikulum Syi’ah Ismailiyah.[3]

6.    Nizzar (Al Aziz Billah) bin Mu’ad (Al Muiz) (365-386H) Naik tahta setelah ayahnya wafat, seorang yang mulia dan pemberani. Pada masanya membangun Perguruan Tinggi Kairo. Hari-harinya -seluruhnya penuh dengan hari raya yang bid’ah. Sangat ramah lebih dari ayahnya terhadap Yahudi & Nasrani, mengangkat mereka menjadi Menteri dan Gubernur di Syam, ahlu kitab diberi kesempatan seluas-luasnya memegang jabatan tinggi dalam pemerintahan, contohnya seperti pansehatnya yang Yahudi kemudian masuk Islam Al Wazir Yaqub bin Killas, juga Al Wazir Isa bin Nestorius, seorang Nasrani. Menghentikan sholat tarawih diseluruh negeri Mesir, (pernah) menangkap 13 orang, dipukul, diseret diatas onta dan dipenjara 3 hari hanya karena sholat Dhuha. Seorang dipukul dan diarak keliling kota hanya karena didapati memiliki kitab Al Muwatho, karya Imam Malik.

7.    Manshur (Al Hakim Biamrillah) bin Nizzar (386-411H) Raja Mesir ke-3 dari dinasti Ubaidiyyun dan raja ke-6 dari seluruh rajanya. Naik tahta berusia 11 tahun, memiliki tabiat yang aneh dan mengaku sebagai punya titisan Ketuhanan. Memerintahkan manusia sujud padanya ketika berdzikir di masjid, tutur katanya kotor, dan manusia banyak mendapat azab pedih darinya khususnya penduduk Mesir. Hingga ia dengan melalui bantuan budak Sudan pernah membakar 1/3 Mesir menghancurkan separohnya, merampas harta, separuh mereka disiksa, kaum wanita dianiaya, bahkan berbuat keji terhadap mereka. Semua berita itu adalah berita-berita yang benar tapi mengerikan.

8.   Ali Azh Zhahir Lii’zaz Dinullah (411-428H)

9.   Ma’ad Abu Tamim (Al Mustanshir) bin Adz Dhahir bin Al Hakim (428-487H) Naik tahta pada usia 7 tahun, dan terus berkuasa hingga 60 tahun 4 bulan.

Adz Dzahabi berkata:

“Sepanjang pengetahuan saya, tak seorangpun yang duduk menjadi khalifah ataupun sulthan yang memiliki masa waktu pemerintahan yang lebih panjang darinya. ”

Pada masanya (462H) terjadi gonjang-ganjing dan kelaparan pangan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak zaman Nabi Yusuf. Padahal Mesir adalah negeri yang subur dan banyak orang kaya, akan tetapi kekayaan itu untuk foya-foya. Perayaan-Perayaan bid’ah hingga akhirnya mengalami kekurangan pangan dan kelaparan yang luar biasa. Saat itu manusia memakan manusia lainnya, ada orang yang tega menyembelih anak-anak dan istri istri mereka, lalu dagingnya dimasak dan dijual. Mereka membuat lubang untuk mengubur kepala dan jari-jarinya.

Binatang-binatang tunggangan juga dimakan, hingga tidak tersisa di Mesir kecuali 3 kuda milik penguasa Mesir, yaitu Al Mustanshir, sebelumnya ada ribuan. Gajah pun ikut mati, anjing dijual dihargai 5 dinar. Ada menteri yang keledainya dicuri oleh 3 orang, lalu Raja menghukum mereka, menyalibnya diatas tiang gantungan, esoknya tulang-tulang mereka berserakan ditungku kayu bakar penduduk karena dimakan manusia, Merekapun membunuhi para ulama, dalam menuturkan biografi Abu Bakar An Nablusi, Adz Dzahabi [Siyaru A’laamin Nubala XVI: 148, 149] menyatakan:

“Abu Dzarr al Hafizh berkata: “Abu Bakar dipenjara oleh Bani Ubaid dan disalib demi (karena) mempertahankan Assunnah.

” AdDaraquthni sambil menangis menceritakan kisahnya itu. Beliau menuturkan: ” Ketika disembelih, Abu Bakar masih sempat membaca firman Allah: Kaana dzalika fil kitaabi masthuroo “Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh) Al Israa’: 58.

Abu Faraj Ibnul Jauzi berkata:

“Jauhar, komandan perang bawahan Abu Tamim pemimpin Mesir memanggil Abu Bakar An-Nablusi yang kala itu sedang mendatangi gubuk-gubuk (kaum fakir).

Ia bertanya:

“Apakah engkau pernah membuat pernyataan bahwa apabila seorang lelaki memiliki 10 anak panah, maka hendaknya satu panah ia tembakkan ke Romawi dan 9 lainnya kepada kami?”

Beliau menjawab:

“Aku tidak pernah menyatakan demikian. Namun yang kukatakan, kalau seseorang memiliki 10 anak panah, hendaknya ia menembakkan 9 anak panah itu kepada kalian, sedangkan yang ke-10 juga ditembakkan kepada kalian!! Karena kalian telah mengubah agama, membunuh orang-orang shalih dan mengaku-ngaku memiliki cahaya ketuhanan!!!”

Merekapun menanyai sampai beliau mengaku dan memukulnya, kemudian mereka memanggil orang Yahudi untuk menyembelihnya. ”

10.     Ahmad (Al Musta’li Billah) bin Al Mustanshir (487-495H)

11.    Manshur (Al Amir Biahkamillah) bin Ahmad bin Al Mustanshir (495-524H) Naik tahta berusia 5 tahun setelah kematian ayahnya. Sangat dekat dengan Nashrani, memberikan kepada para pendeta di gereja-gereja 10. 000 dirham setiap keluar untuk berburu, sehingga kas gereja Mesir bertambah besar pada waktu itu. Pada masa-masa akhir pemerintahannya terjadi kelaparan berat. Dia orang yang berani menumpahkan darah, berani melakukan perbuatan jahat dan berani membenarkan perbuatan jelek. Memegang 29 tahun tahta, dengan 20 tahun diwakilkan kepada menterinya yang cakap. Tanpa meninggalkan seorang anakpun.

12.    Abdul Majid (Al Hafidz Liidinillah) bin Muhammad bin Al Mustanshir (524-544H) Dia sering berbuat kejam kepada menteri-menteri dan ajudan-ajudannya.

13.     Azh Zhafir Billah Ismail (544-549)

14.     Isa al Faiz Binashrillah (549-555)

15.    Abdullah (Al Adhid Lidinillah) bin Yusuf bin Muhammad bin Al Mustanshir (555-567H) Adalah akhir raja Mesir dari dinasti Ubaidiyyin, lahir 546H sangat condong kepada Syi’ah, berlebihan dalam mencela shahabat, menghalalkan darah ahlus sunnah, senang menumpahkan darah dan senang kepada orang bejad. Adz Dzahaby dalam Siyar A’lamu Nubala (15/212), disebutkan bahwa raja terakhir dari Ubaidiyyah adalah Al ‘Adhid Lidinillah yang dibunuh oleh Shalalhuddin al Ayyubi tahun 564H (?), dia mengatakan, “Dan hilanglah kasus Al Adhid bersama kehadiran Shallahuddin, ia mencopotnya kemudian berkotbah kepada Bani Abbas dan membungkam mulut Bani Ubaid serta mengembalikan negara penentang,. . ”
Gerakan Bathiniyah telah mengobok-obok daulah Islam pada zaman kekhalifahan Bani Abbasiyah. Mereka berhasil memecah belah wilayah-wilayahnya dan menyebarkan paham zindiq dan ilhad sampai akhirnya Shalahuddin muncul membabat habis sisa-sisa Majusi dan mengembalikan daulah Ahlus Sunnah wal Jamaah kepada kaum muslimin kemudian usahanya tertuju kepada pembersihan negeri-negeri Islam dari kaum salibis.[4]

Bersambung…

Referensi: Kafirnya Daulah Ubaidiyah Mesir


[1] Dinukil dari Bid’a Hauliyah dari beberapa catatan kakinya & Tarikh Khulafa’:

  1. Al Mu’iz Mu’ad (341-365H) bin Ismail memasuki Mesir tahun 362H bulan Ramadhan yaitu Mu’ad bin Ismail bin Sa’id bin Abdullah, Abu Tamim (lihat wafayat al a’yaan V: 224-228; biografi no. 727; Al Bidayah wa Nihayah I:317-319, serta Al A’laam VII:265)
  2. Al Aziz (365-386H) yaitu Abu Manshur Nizzar bin Al Mu’iz bin Al Manshur bin Qaim bin Mahdi Al Abidi (Lih: Wafayaat Al A’yaan V:371-376; biogra_ no. 759; Al Bidyah wa Nihayah XI:358; dan Al Khuthat Al Muqriziyah II:284-285)
  3. Manshur (386-411H) bin Nizzar Yaitu Manshur (Al-Hakim Biamrillah) bin Nizzar (Al Aziz Billah) bin Mu’ad (Al Muiz Billah) bin Ismail (Al Manshur Billah) bin Muhammad (Al Qaim Biarillah) bin Ubaidillah (Al Mahdi) Al Abidi. (Lih: Al Bidyah wa Nihayah XII:10-12; An Nujum Az Zahirah IV: 179-193; dan Al Khuthaht Al Muqriziyah II: 285-289)
  4. Al Mustanshir (427-487H) yaitu Ma’ad Abu Tamim bin Adz Dzahir bin Al Hakim bin Al Aziz bin Al Mu’iz Al Abidi (Wafayaat Al A’yaan V: 229-230, biografi no. 728; dan Sadzarat Adz Dzahab III:382-383)
  5. Al Amir (495-524) yaitu : Manshur bin Ahmad bin Ma’ad Al Abidi, Abu Ali (lih: Wafayaat Al A’yaan V: 299-302, Al Khuthat Al Muqriziyyah II:290-291)
  6. Al Hafidz (524-544) yaitu Abdul Majid bin Muhammad bin Al Mustanshir Al Ubaidi, Abul Maimum (lih: Wafayaat Al A’yaan V: 235-237, Siyaru A’laam An Nubala XV:199-202)
  7. Al Adhid raja terakhir meninggal 567H, yaitu Abdullah bin Yusuf bin Muhammad bin Mustanshir bin zhahir bin Hakim bin Abdul Aziz bin Mu’iz bin Manshur bin Qaim bin Al Mahdi Al Abidi (lih: Wafayaat Al A’yaan III: 109-112; biografi no. 345; Al Bidayah wa Nihayah XII:280-281).

[2] Bathiniyah adalah sekumpulan orang yang bersembunyi dibalik nama Islam, namun condong dalam kekafiran. Inti dari perkataan mereka adalah meniadakan Allah, menggugurkan nubuwah dan ibadah serta mengingkari hari kebangkitan. Mereka memiliki nama-nama:

  1. Bathiniyah (keyakinan bahwa syariat ini memiliki gambaran batin yang bisa lepas dari dhahirnya, ilmu batin = hakikat, dll);
  2. Ismailiyah;
  3. Sab’iyah (keyakinan akan imamah tujuh-tujuh atau juga alam diatur oleh 7 planet);
  4. Babakiyah (nisbat kepada Babak Al Khurramy, suka menghalalkan yang haram, suka merampas, membunuh. Konon korbannya lebih 80.000 orang atau 50.500 orang selama 20 tahun! Kebiasaan mereka dalam satu malam setiap tahunnya adalah “berburu’ yakni berkumpul laki perempuan dengan lampu dipadamkan dan bebas berhubungan siapapun yang didapat);
  5. Muhammirah;
  6. Qaramithah;
  7. Khurramiyah;
  8. Ta’limiyyah [lih. Talbis Iblis]

Ada juga yang memasukkan Nashiriyyah kedalam barisan zindiq Bathiniyyah ini.

[3] Ismailiyah: Aliran ini dinisbatkan kepada Muhammad bin Ismail bin Ja’far. Mereka mengira bahwa peran imamah sudah habis karena dialah imam ke-7. Mereka berdalih bahwa langit ada 7, bumi 7 dan hitungan hari juga 7. Mereka berpendapat bahwa Muhammad bin Ismail telah menghapus syariat Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Mereka lebih kafir dari kelompok Ghaliyah (yang mengakui ketuhanan atau kenabian Ali). Mereka berkeyakinan bahwa alam bersifat qadim, mengingkari hari kiamat, mengingkari kewajiban-kewajiban Islam dan keharamannya. Mereka termasuk aliran kebathinan Al Qaramithah yang lebih kafir dari Yahudi, Nasrani dan musyrik Arab. Pendapat mereka merupakan perpaduan antara pendapat filosof dan Majusi, sehingga menampakkan Syi’ah dalam bentuk kemunafikan. Diantara mereka yang terkenal adalah orang-orang ahli ibadah, sufi, yang menduduki Mesir dan Syam dalam waktu panjang.

[4] Syaikh Salim bin Ied: Al Jama’ah Islamiyah fi Dhouil kitab wa sunnah bi fahmi salaful Ummah.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s