Trilogi Maulid Nabi Muhammad – Napak Tilas Perayaan Maulid Nabi (1)

1. Pengantar

Siapa tak kenal maka tak sayang, begitulah peribahasa yang sering kita dengar. Adapun dengan amalan agama, bagi siapa yang tidak tahu uswahnya (tauladannya) bisa jadi tersesat, ikut-ikutan terjebak dalam kegelapan.[1] Bukannya pahala yang dituai bisa jadi dosa menjadi kubangannya. Dan Insya Allah dalam risalah berikut ini, sedikit mengupas sejarah Perayaan khususnya Maulid Nabi yang amat populer dikalangan kaum muslimin.

Agar jalan menjadi terang, agar tersingkap titian menuju amalan shahih sehingga kita paham siapa tauladan kita dalam beramal. Dan bisa jadi setelah membacanya pepatah diatas berubah,. . semakin kenal semakin tak sayang?

Ini adalah PR yang tersisa dari tahun-tahun yang telah silam, dimana ketika terjadi diskusi yang cukup hangat tentang masalah maulid ini, pesertanya kabur lagi ngacir ketika dimintai pertanggungjawabannya terhadap apa yang ditulisnya atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang didakwa olehnya bahwa beliau membolehkan secara terang akan maulid ini.

Namun sangat disayangkan diskusi ini diputus dengan gampangnya sambil menyatakan hal-hal yang tidak perlu, yakni tidak meladeni kembali untuk menetas jalan yang benar.

Alangkah banyaknya diskusi yang semacam ini, ketika terpojok lalu menutup majelis dengan hal-hal yang tidak bermutu. Sedangkan al haq adalah yang patut untuk diikuti.

Dan terimakasih juga saya sampaikan kepada seorang member mailist[2] ini yang mengirimkan kitab BID’AH Hauliyah (Sebenarnya dikirimkan kepada Ust. di Medan, tapi saya kebagian juga) -sumber utama tulisan ini-, walaupun telah lewat hampir 3 tahun tidaklah mengapa disampaikan sekarang.

Karang Tengah @2003

Abu Ismail (apriadi27@yahoo.com)


2. Mukaddimah

Sesungguhnya penyelenggaraan perayaan yang memperingati peristiwa-peristiwa Islam tertentu yang kemudian dijadikan sebagai perantara untuk mendapat berkah itu, pada mulanya hanya dikenal oleh kelompok kebatinan yang buruk. Mereka adalah Bani Ubaid Al Qaddah yang menamakan dirinya sebagai Fatimiyyun.[3]

Upacara maulid adalah termasuk perbuatan yang dicontohkan oleh para ahli penyimpangan dan kesesatan, sesungguhnya orang yang pertama yang memunculkan perayaan upacara maulid adalah orang-orang dari Bani Fatimiyyun dari golongan Ubaidiyyun yang hidup dikurun waktu ke-4 Hijriyah. Mereka ini sengaja mengklaim dirinya sebagai pengikut Fathimah secara dzalim dan untuk mencemarkan nama baiknya padahal sebenarnya mereka adalah sekelompok orang-orang Yahudi atau ada yang mensinyalir bahwa mereka dari orang Majusi (penyembah api) bahkan ada yang mengatakan mereka berasal dari kelompok Atheis.[4]

Pendapat lain:

As Suyuthi dalam Husnul Maqshud fi Amal Al Maulid menegaskan:

“Orang yang pertama kali mengadakan peringatan hari Maulid Nabi adalah penduduk Irbal, Raja Agung Abu Sa’id Kau Kaburi[5] bin Zainuddin Ali bin Bakitkin, seorang raja negeri Amjad.[6]

Dan ini diikuti oleh Syaikh Muhammad bin Abu Ibrahim Alu Syaikh:

“Bid’ah peringatan Maulid Nabi ini, pertama kali diadakan oleh Abu Sa’id Kau Kaburi pada abad ke-6 H,

Syaikh Hamud Tuwaijiri:

“Upacara peringatan maulid adalah bid’ah dalam Islam yang diadakan oleh sulthan Irbal pada akhir abad ke-6H atau pada awal abad ke-7H. “

Al Ubaidiyyun memasuki Mesir 362H dan raja terakhirnya Al Adhid meninggal 567H, sedangkan penguasa Irbal dilahirkan 549H dan meninggal 630H, ini menjadi bukti bahwa kelompok Ubadiyyun lebih dahulu daripada penguasa Irbal -Al Malik Al Mudzaffar- dalam mengadakan upacara peringatan maulid Nabi. Bukan tidak sah mengatakan bahwa penguasa Irbal adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi di Maushil, karena yang dilakukan Al Ubaidiyyun diadakan di negeri sendiri -Mesir, seperti yang dijelaskan dalam buku-buku sejarah. Wallahu a’lam.[7]

Bersambung…

Referensi: Kafirnya Daulah Ubaidiyah Mesir


[1] Renungkanlah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam muqaddimah (1/10) shahihnya meriwayatkan sampai sanadnya kepada Muhammad bin Siriin, beliau berkata:”Sesungguhnya ilmu itu agama, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian!!”

[2] yaitu milist: assunnah@yahoogroups.com

[3] Dr Ali bin Nafi’ Al Ulyani: At Tabarruk Al Masyru’wa Attabarruk Al mamnu’: “Orang yang pertama kali mengadakan bid’ah ini adalah Bani Ubaid Al Qadah”; Al Bida’ Al Hauliyah : Abdullah bin Abdul Aziz bin Ahmad At Tuwaiziri : (catatan kaki hal 147:Ahsan Al Kalam: 44, Al Ibtida’ 251, Tarikh Ikhtifal bi Al maulid An Nabi: 62, Naft Al Azhaar 185-186, Al Qaul Fasl: 64).

[4] Dr. Said bin Ali Al Qohthoni: Nuurus Sunnah wa Dhulumatul Bid’ah : lihat hal 107 & catatan kaki (ed Indonesia).

[5] Demikianlah yang disebutkan dalam kitab Al Hawi danyang benar namanya adalah Abu Said Kau Kaburi bin Abi Hasan Ali bin Baktakin bin Muhammad, yang diberi gelar dengan Raja Agung Mudza_aruddin Shahibu Irbal, lahir tahun 549H, memegang kekuasaan setelah ayahnya tahun 563H, berusia 14 tahun. Kemudian dikudeta dan dikeluarkan. Lalu dia melanjutkan dengan bantuan
Shalahuddin Al Ayubi, berlindung kepadanya dan dinikahkan dengan saudara perempuannya Rabi’ah Khathun bintu Ayub. Dia melakukan banyak peperangan bersama Shalahudin, yang tanpak disitu keberaniaannya, khususnya di Hithin. Diantara yang terkenal darinya adalah peringatan Maulid Nabi yang diadakannya. Abu khathab bin Dahiyah telah menulis buku khusus untuknya, tentang peringatan Maulid ini, judulnya At Tanwir _ Maulid Al Bayir An Nadzir lalu diupah 1000 dinar.

[6] Abdullah bin Abdul Aziz bin Ahmad At Tuwaiziri : Al Bida’ Al Hauliyah 148.

[7] Ibid hal 149-151.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s