Perjalanan Mencari Kebenaran Seorang Laki-Laki Bernama Salman Al-Farisi

Awal 

Tidak ada seorang pun yang dapat mengabarkan kisah  Salman lebih baik dari dirinya sendiri. Salman r.a menceritakan kisahnya kepada salah seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad saw. yang bernama Abdullah bin Abbas yang kemudian menceritakannya kembali kepada yang lainnya [1]. Ibnu Abbas berkata:

Salman berkata, “Aku seorang dari bangsa Persia yang berasal dari Isfahaan [2] dari sebuah desa yang dikenal dengan nama Jayyun.  Ayahku adalah kepala desa. Baginya, aku adalah mahluk Allah yang paling dicintainya. Cintanya kepadaku sampai pada batas dimana dia mempercayaiku untuk mengawasi api [3] yang dia nyalakan. Dia tidak akan membiarkannya mati.” 

Ini adalah sebuah petunjuk akan sikap baik seorang anak kepada ayahnya. Disini Salman menggunakan nama yang benar dari Ilah yang haq, Allah.  Nama Allah adalah nama yang sama digunakan oleh seluruh Nabi dan Rasul (shallallah ‘alaihim ajma’in). Allah adalah nama Rabb yang sama dalam bahasa Ibrani dari nabi kita Isa .

Sebuah Agama yang Berbeda? 

“Ayahku memiliki areal tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan  ke tanah tersebut, saya   melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang shalat di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena ayahku membatasiku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.” 

Munculnya Ketertarikan 

“Ketika saya melihat mereka, saya menyukai shalat mereka dan menjadi tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), ‘Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami’” 

Salman memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta.

 “Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku.” 

Salman kemudian merenungkan agama ini yang pada saat itu dianggapnya sebagai keimanan yang benar. Sebuah perspektif dan hati yang baik yang terisi kesabaran adalah kemuliaan yang dibutuhkan untuk membebaskan diri seseorang dari batas-batas pemikiran seperti: “Baiklah saya akan mencari tahu, tetapi saya sangat sibuk sekarang,” dan lain-lain.  Kematian mungkin saja mengetuk pintu lebih cepat daripada yang diharapkan.

 “Saya bertanya (yakni kepada orang-orang di gereja), ‘Darimana asal agama ini?” 

Mencari tahu asalnya adalah petunjuk bagi orang-orang yang ingin mencari agama yang benar. Asal dan intisari (pokok) adalah  istilah-istilah mendasar yang membantu dalam proses pencarian. Darimana asal agama Islam dan apa isi pokok (ajarannya)? Islam datang dari Allah SWT, Pencipta, Ilah yang haq, dan intinya adalah berserah diri kepada-Nya

Mereka menjawab: ‘Dari Syam [4] ’. Kemudian saya kembali kepada Ayahku yang sedang khawatir dan mengirim (seseorang) untuk mencariku. Ketika saya tiba dia bertanya. “Wahai anakku! Dari mana engkau? Bukankah aku mempercayakanmu untuk sebuah tugas?” Saya berkata,  “Wahai ayah, saya melewati orang-orang yang sedang shalat dalam gereja mereka dan saya menyukai agama mereka. Saya tinggal bersama mereka  sampai matahari terbenam.’”

Ini adalah kejujuran menakjubkan yang ditunjukkan oleh seseorang yang mengetahui dengan benar bahwa ayahnya sangat komitmen terhadap agamanya. Ini adalah bentuk keterbukaan yang harus  dimiliki oleh seseorang yang mencari kebenaran.

Penentangan 

“Ayahku berkata, ‘Wahai anakku! Tidak ada kebaikan  pada agama itu, agamamu dan agama ayahmu dan agama nenek moyangmu lebih baik.’”  

Ini adalah topik dari semua orang yang taklid buta dalam perkara keimanan. Ini mengingatkan kita kepada firman Allah :

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (QS Al-Fushilat [41] : 26)

“Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”.” (QS Az-Zukhruf [43] : 22)

“Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”.” (QS Luqman [31] : 22)

“Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” (QS Al-Mu’minuun [23] : 24)

Seringkali, jika anda berbicara dengan orang yang masuk Islam dari agama lain, mereka berkata bahwa mereka mendengar (sesuatu) yang sama (dengan) yang Allah sebutkan mengenai orang-orang kafir. Perkara ini adalah sama. Ia datang dalam bentuk, “Apakah kamu akan meninggalakan agama bapakmu dan nenek moyangmu?” Tidak hanya itu, tetapi orang tua dan keluarga secara luas berdiri berhadapan (maksudnya menentang-pent.) dengan sang muallaf. Besarnya penentangan ini bisa berupa keadaan atau ancaman terhadap kehidupan sampai pada boikot. Ini adalah kecenderungan umum,  namun demikian, ada beberapa kasus penentangan yang sangat sedikit bahkan netral.

 “Saya berkata, ‘Tidak, demi Allah, ini lebih baik dari agama kita.’” 

Salman mencintai ayahnya, tetapi dia tidak menyanjungnya. Dia tidak berkompromi mengenai apa yang dia rasakan pada saat itu sebagai kebenaran. Apa tanggapan ayahnya?

Salman berkata, “Dia mengancamku, merantai kedua kakiku dan memenjarakanku di rumahnya.” 

Seorang ayah menyakiti anaknya tercinta untuk mengubah pendiriannya dari mencari kebenaran. Banyak Nabi ditentang, dituduh,  dianiaya oleh anggota keluarganya sendiri karena penentangan mereka terhadap ‘tradisi turun temurun’! Apakah Salman berhenti samapai disana?

Jalan Keluar

Ia berkata, “Saya mengirimkan pesan kepada kaum Nasrani tersebut meminta mereka memberi kabar akan kedatangan para pedaganng Nasrani dari Syam. Rombongan pedagang tiba dan mereka mengabariku, maka kukatakan (kepada orang-orang Nasrani tersebut) untuk memberi tahu kapan rombongan pedagang itu menyelesaikan urusannya dan bergerak kembali ke negrinya. (Lalu) saya dikabari (oleh mereka) ketika orang-orang Syam telah menyelesaikan perdagangan mereka dan bersiap-siap untuk kembali ke negrinya, maka saya lepaskan rantai dari kakiku dan mengikuti rombongan itu sampai tiba di Syam.”

Dia tidak menyerah pada perintah zalim ayahnya. Dia bertekad untuk kebenaran, yang akhirnya membawanya mengetahui kebenaran mengenai Sang Pencipta, Allah SWT.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS Al-Ankabut [29] : 69)

Salman berketetapan hati dan mulai mencari kebenaran, tidak perduli kenyataan bahwa negeri tersebut jauh dan asing baginya. Allah  mengetahui kejujurannya, membimbingnya dengan memudahkan baginya untuk mendapatkan sesuatu yang dipergunakan untuk melakukan perjalanan ke Syam.

Inilah dia, Tetapi…! 

“Pada saat kedatanganku, saya bertanya, “Siapakah yang paling alim diantara semua orang dari agamamu ini?’” 

Salman mencari kebenaran yang nyata, dan karenaya dia mencari orang yang paling beriman diantara penduduk Syam. Kenapa tidak? Orang-orang menyukai makanan terbaik, pasangan terbaik, dan pakaian terbaik. Salman mencari yang terbaik dalam hal keimanan.

“Mereka berkata, ‘Pendeta, (dia ada) di dalam gereja.’ Saya datang kepadanya dan berkata, ‘Saya menyukai agama ini, dan saya ingin menyertaimu dan berkhikmad di gereja, agar saya dapat belajar darimu dan shalat bersamamu.’”

Salman menyadari sejak awal bahwa ilmu hanya dapat  diperoleh dengan menyertai ahlinya (orang yang memiliki ilmu-pent.). Sebagai balasannya, dia siap menawarkan dirinya sebagai pelayan dari pendeta tersebut. Kerendahan dari oang-orang yang mencari kebenaran membawa mereka lebih dekat dan lebih dekat kepada kebenaran itu. Tidak adanya sikap rendah diri ini, berlaku sombong; orang-orang melihat tanda-tanda kebenaran, tetapi keangkuhannya membawa mereka kepada kehancuran.

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (QS An-Naml [27] : 14)

Harta, status sosial, dan faktor-faktor materi lainnya seharusnya tidak menahan seseorang dari mencari kebenaran, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap masa depannya. Semua hal ini akan hilang, dan orang tersebut akan memasuki kuburnya tanpa sesuatu apapun kecuali amal-amalnya. Amal-amal ini adalah yang berada dalam hati (iman), dan dari perkataan dan perbuatan anggota badan, yang merupakan manifestasi dari amalan-amalan hati. Apakah aku telah berserah diri kepada Penciptaku? Apakah aku hidup menuruti perintah-Nya sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan oleh ajaran Rasul terakhir, Muhammad saw.? Hanya inilah yang akan bermanfaat pada Hari Pengadilan.

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS Asy-Syu’araa [26] : 88-89)

“Dia (pendeta itu) berkata, ‘Engkau boleh masuk dan tinggal bersamaku,’ maka saya pun bergabung bersamanya.” Setelah beberapa waktu, Salman menemukan sesuatu pada pendeta tersebut. Dia adalah seorang laki-laki yang buruk yang memerintahkan dan menganjurkan kaumnya untuk membayar sedekah, hanya untuk menyimpannya bagi dirinya sendiri. Dia tidak memberikannya kepada orang-orang miskin. Dia telah  menimbun tujuh guci emas dan perak! 

 “Saya membencinya karena perbuatannya.” 

Jelas bahwa kebenciannya terhadap sang pendeta tidak menghentikannya mencari kebenaran. Allah Ta’ala menunjukinya, mengetahui keikhlasannya dalam mencari kebenaran.

“Dia (pendeta itu) meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul untuk menguburkannya. Saya memberitahu mereka bahwa dia adalah seorang yang jahat, yang memerintahkan dan mendorong orang-orang untuk memberikan kepadanya sedekah hanya untuk disimpannya sendiri,  dan dia tidak memberikannya kepada orang-orang miskin. Mereka berkata, ‘Bagaimana engkau mengetahuinya?’ Saya menjawab, ‘Saya dapat menunjukkan kepada kalian harta simpanannya.’ Mereka berkata, ‘Tunjukkanlah kepada kami!’ Maka saya menunjukkan kepada mereka tempat (dimana dia menyimpan hartanya) dan mereka menemukan darinya tujuh buah guci yang dipenuhi tumpukan emas dan perak. Ketika mereka melihatnya mereka berkata, ‘Demi Allah kami tidak akan menguburkannya.’ Mereka mencac-maki dan melemparnya dengan batu.’”[5]

Keinginan itu Sangat Kuat 

Salman berkata, “Mereka menggati pendeta mereka. Demi Allah saya tidak pernah melihat seseorang yang shalat lima waktu lebih baik darinya; tidak juga seseorang yang lebih zuhud dari kehidupan dunia ini dan sangat condong kepada akhirat, tidak juga seseorang yang lebih bersungguh-sungguh bekerja siang dan malam (dibanding dengannya). Saya mencintainya lebih daripada orang lain yang saya cintai sebelumnya.” 

Ada lima shalat sehari semalam yang diwajibkan dalam Islam. Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. tata cara mengerjakan shalat beserta waktunya. Itu bukanlah jenis shalat yang dibuat dan dilaksanakan oleh sebagian orang. Shalat adalah fondasi Islam. Apabila dilaksanakan sesuai dengan cara Nabi saw., maka dia akan mensucikan seseorang dari dosa-dosa dan kesalahannya yang dilakukannya pada hari tersebut.

“Saya tinggal bersamanya selama beberapa waktu sebelum dia meninggal. Ketika ajalnya hampir tiba saya berkata kepadanya, “Wahai fulan, saya tinggal bersamamu dan mencintaimu lebih dari apapun yang saya cintai sebelumnya. Kini takdir Allah (yakni kematian) telah tiba, apa  yang engkau wasiatkan kepadaku agar kupegang, dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?”  

Salman mulai berpikir siapa yang akan diikutinya ketika sang pendeta tiada. Dia kembali berpikir untuk mencari seorang yang shalih dan berilmu. Keinginan dan kesiapannya untuk mencari kebenaran telah tetap.

“Sang pendeta berkata, ‘Demi Allah, orang-orang telah merugi; mereka telah merubah dan mengganti (agama) apa yang mereka berada di atasnya. Saya tidak mengetahui seorang pun yang masih berpegang kepada agama yang saya berada di atasnya kecuali seorang laki-laki di Musil [6], maka bergabunglah dengannya.’ (dan dia memberikan Salman nama orang tersebut).” 

Langkah Berikutnya 

Ketika pendeta itu meninggal, Salman berangkat ke al-Musil dan bertemu dengan orang yang disebutkan. “Saya berkata kepadanya, “Fulan, pada saat kematiannya mewasiatkan kepadaku untuk bergabung bersamamu. Dia berkata engkau berpegang pada (agama) yang sama dengannya.’ Laki-laki Musil tersebut berkata kepada Salman untuk tinggal bersamanya. ‘Saya tinggal bersamanya dan mendapati dirinya seseorang yang terbaik yang berpegang kepada perkara (agama) sahabatnya.’” 

 “Lalu dia meninggal,” kata Salman. Ketika ajal mendatanginya, Salman meminta kepadanya (sebagaimana yang dia lakukan sebelumnya dengan sahabatnya yang pertama) untuk mewasiatkan orang lain yang berada di atas agama yang sama. Laki-laki itu berkata, “Demi Allah! Saya tidak mengenal seseorang pada perkara (agama) yang sama seperti kami kecuali seorang laki-laki di Nasibin [7] dan namanya adalah (fulan bin fulan), maka pergi dan bergabunglah dengannya.” 

Kembali, Langkah Berikutnya 

“Setelah kematiannya, saya melakukan perjalanan menuju kepada laki-laki dari Nasibin.” Salaman menemukan orang tersebut dan tinggal bersamanya selama beberapa waktu. Peristiwa yang sama terjadi. Ajal menghampiri, dan sebelum orang itu meninggal, Salman datang kepadanya dan bertanya akan wasiatnya kepada siapa dan kemana dia pergi. Laki-laki tersebut mewasiatkan Salman untuk bergabung dengan seorang laki-laki lain di Amuriyah [8] yang juga berada di atas agama yang sama. 

 Salman pindah ke Amuriyah setelah kematian sahabatnya. Dia menemukan orang yang di dimaksudkan dan bergabung bersamanya  dalam agamanya. Salman (pada saat itu) bekerja dan, mendapatkan beberapa ekor sapi dan dan seekor kambing.’ 

Cara mencari nafkah yang baik dan halal adalah sangat penting bagi orang-orang yang beriman. Tentu saja pengaruh uang sangat besar, banyak orang telah menjual diri dan prinsip-prinsipnya dengan harga yang murah, dan banyak yang menjadi munafik demi uang. Namun demikian, ada orang-orang yang berdiri di atas kebenaran tidak perduli apapun yang mungkin mereka lewatkan. Hal ini membawa kedamaian di hati dan pikiran.

Sebuah Langkah Besar 

Ajal mendekati laki-laki Amuriyah tersebut. Salman mengulang permintaannya, tetapi (kali ini) jawabannya berbeda. Laki-laki itu berkata, “Wahai anakku! Saya tidak mengenal seorang pun yang berpegang pada perkara (agama) yang sama dengan kita. Namun demikian, seorang Nabi akan datang pada masa kehidupanmu, dan Nabi ini berada pada agama yang sama dengan agama Ibrahim.” 

Pendeta itu mengenal milah Ibrahim. Ini adalah asal dari tauhid, dan seruan untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Pendeta  tersebut mengetahui dengan benar bahwa Ibrahim mengatakan kepada anak-anaknya:

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS Al-Baqarah [2] : 132)

Ibrahim menikahi Sarah dan Hajar. Keturunannya dari perkawinannya dengan Sarah adalah Ishak, Yaqub, Daud, Sulaiman, Musa dan Isa, alaihimush shalatu wassalam; dan keturunannya dari perkawinannya dengan Hajar adalah Ismail dan Muhammad  saw.. Ismail dibesarkan di Makkah di Arab, dan Muhammad saw. adalah dari keturunan beliau.

Pendeta tersebut mengetahui bahwa keimanan Ibrahim adalah keimanan yang benar untuk diikuti. Dia tentunya telah membaca janji Allah untuk menjadikan ‘Kaum Besar’ dari keturunan Ismail (Genesis 21:18), dan oleh karena itu dia mewasiatkan Salman untuk pergi dan bergabung dengan Nabi , yang berasal dari keturunan Ismail, yang berserah diri kepada Allah dan mengikuti millah Ibrahim.

“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”  (QS Al-Baqarah [2] : 129)

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”  (QS An-Nahl [16] : 123)

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.”  (QS Al-Imran [3] : 68).

Laki-laki itu menggambarkan Nabi ini, berkata, “Dia akan diutus dengan agama yang sama dengan (agama) Ibrahim. Dia akan datang di negeri Arab dan akan hijrah ke wilayah antara dua wilayah yang dipenuhi  oleh batu-batu hitam (seolah telah  terbakar api). Ada pohon-pohon kurma tersebar ditengah-tengah kedua tanah ini. Dia dapat dikenali dengan tanda-tanda tertentu. Dia (akan menerima) dan makan (dari) makanan yang diberikan sebagai hadiah, tetapi tidak akan makan dari sedekah. Stempel kenabian akan berada diantara pundaknya. Jika engkau dapat pindah ke negeri itu, maka lakukanlah.”  

Laki-laki tersebut mengetahui tentang kedatangan seorang Nabi dari bangsa Arab, dari saudara Bani Israil (Deuteronomy 18, 17-18: “Saya akan membangkitkan seorang nabi diantara mereka, seperti engkau (yakni Musa) [9]dan akan menempatkan perkataan-Ku di mulutnya [10]. Dan dia akan mengatakan kepada mereka semua yang Aku perintahkan kepadanya”). Tentu saja, ayat ini tidak merujuk kepada Yesus sebagaimana yang berusaha diterjemahkan oleh Paul (Act 13:22-23). Yesus bukanlah dari keturunan  Ismail dan dia sendiri adalah dari Bani Israil, [11] dia bukan dari saudara mereka (Bani Isranil).

Laki-laki tersebut mengetahui apa yang disebutkan dalam kitab mereka mengenai wahyu Allah datang dari Timan (bagian utara kota Madinah di negeri Arab, menurut kamus Injil J. Hasting), dan ‘Ruhul Qudusi’ datang dari Faran. [12] Menurut Genesis 21:21,  pegunungan Faran adalah tempat dimana Nabi Ismail as. bertempat tinggal dan memiliki dua belas anak, salah satu diantaranya adalah Kedar, anak kedua Ismail  as. Dalam Isaiah 42:1-13, ‘kekasih Allah’ dihubungkan dengan keturunan Kedar, nenek moyang Nabi Muhammad saw.

Ketika Nabi Muhammad saw. mendakwahi penduduk Makkah untuk berserah diri kepada Allah, sebagian besar mereka menolak, dan berencana untuk membunuh Nabi saw. Beliau bersama orang-orang yang masuk Islam diperintahkan oleh Allah untuk hijrah ke Madinah. Lalu perang terjadi di Badar antara “sedikit orang dengan persenjataan seadanya’ diwakili oleh Muhammad saw dan para pengikutnya, dan kaum kafir dari Makkah, setahun setelah Nabi hijrah. Nabi dan para sahabatnya memperoleh kemenangan (Isaiah 21 : 13-17).

Laki-laki tersebut mengetahui bahwa Yesus (Isa ) memberitahukan tentang kedatangan Nabi Ahmad saw.(Muhammad saw.).[13] Ini adalah berita gembira yang Allah kabarkan melalui lisan Yesus (Isa as.).

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).””  (QS Ash-Shaf [61] : 6)

Laki-laki itu meninggal dan Salman tinggal di Amuriyah. Suatu hari, “Beberapa pedagang dari Bani Kalb[14] melewatiku,” Salman berkata, “Saya berkata kepada mereka, ‘Bawalah saya ke negeri Arab dan Saya akan memberikan sapi-sapi dan kambing yang aku miliki.’” Mereka berkata, “Baiklah.” Salman memberikan kepada mereka apa yang dia tawarkan, dan mereka pun memebawa Salman ikut bersama mereka. Ketika mereka mendakati Wadi Al-Qura (dekat dengan Madinah), mereka menjualnya sebagai budak kepada seorang Yahudi.  Salman tinggal bersama Yahudi tersebut, dan dia melihat pohon-pohon kurma (yang digambarkan oleh sahabatnya sebelumnya). “Saya berharap ini adalah tempat yang sama dengan yang digambarkan sahabatku.” Kata  Salman. Suatu hari, seorang laki-laki yakni sepupu majikan Salman dari suku Yahudi Bani Quraidha di Madinah datang berkunjung. Dia membeli Salman dari majikan Yahudi-nya, “Dia membawaku ke Madinah. Demi Allah! Ketika saya melihatnya, saya tahu itulah tempat yang disebutkan oleh sahabatku.” 

“Kemudian Allah mengutus Rasul-Nya (yakni Muhmammad  saw.). Dia tinggal di Makkah selama beberapa waktu.[15] Saya tidak mendengar apapun tentangnya karena saya sangat sibuk dengan pekerjaan sebagai budak, dan kemudian beliau hijrah ke Madinah.” 

Lebih lanjut Salman berkata, “(Suatu hari) saya sedang berada di atas pohon kurma di puncak salah satu rumpun kurma melakukan beberapa pekerjaan untuk majikanku. Saudara sepupunya datang kepadanya dan berdiri di hadapannya (majikan Salman sedang duduk) dan berkata, ‘Celaka Bani Qilah (orang-orang dari suku Qilah), mereka berkumpul di Quba[16] disekitar seorang laki-laki yang datang hari ini dari Makah mengatakan (dirinya sebagai) seorang Nabi!” 

“Saya bergetar hebat ketika mendengarnya hingga saya khawatir saya akan jatuh menimpa majikanku. Saya turun dan berkata, “Apa yang engkau katakan? Apa yang engkau katakan?” Majikanku menjadi marah dan memukulku dengan pukulan yang kuat seraya berkata, “Apa urusanmu mengenai ini? Pergi dan kerjakanlah pekerjaanmu!” Saya berkata, “Tidak, saya hanya ingin memastikan apa yang telah ia katakan”. 

 ‘Pada malam itu, saya pergi untuk menemui Rasulullah saw. ketika beliau berada di Quba. Saya membawa serta apa yang saya simpan. Saya masuk dan berkata, ‘Saya telah diberitahu bahwa engkau adalah seorang  laki-laki yang shalih dan para sahabatmu adalah orang-orang asing yang membutuhkan. Saya ingin memberikan kepadamu sesuatu yang saya simpan sebagai sedekah. Saya melihat kalian berhak mendapatkannya lebih daripada orang yang lain.’” 

Salman berkata, “Saya menawarkan kepadanya; dia berkata kepada para sahabatnya, ‘Makanlah,’ tetapi dia sendiri menjauhkan tangannya (yakni tidak makan). Saya berkata kepada diriku sendiri, ‘Inilah dia (yakni salah satu tanda-tanda kenabiannya). 

Setelah pertemuannya dengan Nabi saw., Salman kembali untuk mempersiapkan ujian berikutnya! Kali ini dia membawa hadiah untuk Nabi saw. di Madinah. “Saya melihat engkau tidak makan dari sedekah, karena itu (ambillah) hadiah ini yang dengannya saya ingin menghormati engkau.” Nabi saw. makan darinya dan memerintahkan para sahabatnya untuk melakukannya, yang diikuti oleh mereka. Saya berkata kepada diriku, ‘Sekarang ada dua (yakni dua tanda kenabian).’” 

Pada pertemuan ketiga, Salman datang ke Baqi’ul Gharqad (tempat pemakaman para sahabat Nabi  saw.) dimana Nabi saw. sedang menghadiri pemakanan salah seorang sahabatnya. Salman berkata, “Saya menyapanya (dengan sapaan Islam: ‘Assalamu’alaikum’), dan kemudian berputar ke belakangnya hendak melihat stempel  (kenabian) yang digambarkan kepadaku oleh sahabatku. Ketika beliau saw. melihatku, beliau mengetahui bahwa saya sedang berusaha membuktikan sesuatu yang digambarkan kepadaku. Beliau melepaskan kain dari pnggungnya dan saya melihat stempel itu. Saya mengenalinya. Saya membungkuk dan menciumnya dan menangis. Rasulullah saw.memerintahkanku untuk berbalik (yakni berbicara kepadanya). Saya menceritakan kisahku sebagaimana yang saya kisahkan kepadamu, Ibnu Abbas (ingat bahwa Salman sedang menceritakan kisahnya kepada Ibnu Abbas). Beliau saw. sangat menykainya sehingga memintaku menceritakan  seluruh kisahku kepada para sahabatnya.” 

Salman melanjutkan kisahnya kepada Ibnu Abbas:

Dia masih menjadi milik (budak) majikannya. Dia tidak ikut dua peperangan menghadapi kaum kafir Arab. Nabi berkata kepadanya, “Buatlah perjanjian (dengan tuanmu) untuk kebebasanmu, hai Salman.” Salam mematuhi dan membuat perjanjian (dengan tuannya) untuk kebebasannya. Dia mendapatkan persetujuan dengan majikannya dimana dia akan membayar majikannya 40 ukiyah emas dan berhasil menanam 300 pohon kurma yang baru. Nabi   berkata kepada para sahabatnya, “Bantulah saudaramu.” 

Mereka membantunya dengan pohon kurma dan mengumpulkan baginya jumlah yang diminta. Nabi  saw. memerintahkan Salman untuk menggali lubang yang cukup untuk menanam bibit, dan beliau menananam setiap bibit dengan tangannya sendiri. Salman berkata. “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak satupun pohon yang mati.” Salman memberikan pohon-pohon tersebut kepada majikannya. Nabi  saw. memberi Salman emas sebesar telur ayam dan berkata, “Bawalah ini, Wahai Salman, dan bayarlah utamngmu.” Salman berkata: “Berapa banyak ini dibandingkan dengan jumlah hutangku?” Nabi saw. bersabda: “Ambillah! Sesungguhnya Allah   akan mencukupkan sejumlah hutanmgu.”[17] Saya mengambilnya dan menimbang sebagiannya dan ia seberat 40 ukyah. Salman memberikan emas itu kepada tuannya. Dia telah memenuhi perjanjian dan dia dibebaskan. 

Sejak saat itu, Salman menjadi sahabat dekat Nabi saw..

Salah seorang sahabat Nabi  saw. bernama Abu Hurairah meriwayatkan: “Kami sedang duduk bersama Rasulullah saw. ketika Surat Al-Jumu’ah diturunkan. Beliau membacanya:

“dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka.” (QS Al-Jumu’ah [62] : 3)

Seseorang diantara mereka berkata, ‘Ya Rasulullah!  Siapakah yang orang disebutkan dan belum bergabung dengan kita?’ Tetapi Rasulullah  saw. tidak menjawabnya sampai dia bertanya tiga kali. Salamn al-Farisi berada diantara kami. Rasulullah saw. meletakkan tangannya pada Salman dan kemudian berkata, ‘Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, meskipun jika iman dekat Ats-Tsurayya, laki-laki dari mereka (yakni Salman) tentu akan mendapatkannya.” (Sunan at-Tirmdizi).

Tetapi Mereka Akan Datang! 

Banyak orang di dunia ini seperti Salman, mencari kebenaran mengenai Satu-satunya Ilah yang haq. Kisah Salman ini serupa dengan kisah orang-orang di zaman kita. Mereka mencari sebagian orang, mengambil dari satu gereja ke gereja yang lain, dari gereja kepada Budha atau pada sikap pasif, dari Yahudi kepada ‘Netralitas’, dari agama kepada meditasi kepada penyiksaan mental. Saya telah bertemu dan mendengar mengenai sebagian  orang yang berpindah dari satu ide kepada ide lainnya, tetapi terlalu takut bahkan untuk mengetahui sesuatu tentang Islam! Namun demikian, ketika mereka bertemu orang-orang Muslim, mereka membuka pikirannya. Kisah Salman merupakan sebuah pencarian yang panjang. Anda dapat mencari kebenaran lebih singkat dengan cara mengambil manfaat dari kisah Salman ini.

Footnote:

[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam  Musnad-nya. (Penulis menukil hadits ini dan meringkasnya di beberapa tempat –pent.)

[2] Sebuah daerah di Barat Daya Iran.

[3] Ayah Salman adalah seorang Majusi yang menyembah api

[4] Yang dikenal dengan negara Syam sekarang ini termasuk empat negara, yaitu: Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon.

[5]  Catatan: Sebuah poin yang penting disini adalah bahwa Salman tidak berbalik dari apa yang dianggapnya sebagai kebenaran pada saat itu karena  perbuatan seseorang. Dia tidak berkata, “Lihatlah orang-orang Nasrani ini! Yang terbaik diantara mereka sangat buruk!” Sebaliknya, dia memahami bahwa dia harus menilai agama tersebut pada ajarannya, dan bukan pada para pengikutnya.

[6] Al-Musil: Kota besar di barat laut Iraq.

[7] Nasibin: Sebuah kota di tengah perjalanan antara Musil dan Syam.

[8] Amuriyah: Sebuah kota yang merupakan bagian dari Wilayah Timur Kekaisaran Romawi.

[9] Seorang Nabi yang menyerupai Musa (lihat gambar)

[10] Muhammad  saw. berumur 40 tahun ketika beliau berada di gua ira di Makkah ketika Malaikat Jibril memerintahkan kepadanya, “Bacalah!” Muhammad saw. merasa ketakutan dan menjawab, “Saya tidak dapat membaca!” Kemudian Jibril membacakan dan Nabi saw. mengikuti (membaca firman Allah, “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

(QS Al-Alaq [96] : 1-5)

[11] Perhatikan juga bahwa Injil merujuk kepada bani Israil sebagai ‘saudara’ dari Ismail. Contoh: Gen, 16:12 dan Gen 25:18.

[12] “Allah (wahyu-Nya) datang dari Timan, dan Ruhul Qudus datang dari Gunung Faran Selah. Kemuliannya meliputi langit dan bumi dipenuhi oleh pujiannya.” (Habakkuk 3:3)

[13] Ahmad secara lafazh  berarti: ‘orang yang paling banyak memuji Allah lebih daripada yang lainnya’. Ini adalah nama kedua Nabi Muhmmad saw. yang berkata dalam sebuah hadits shahih,

‘Aku memiliki lima nama: Aku adalah Muhmmad dan Ahmad, Aku Al-Maahi yang melaluiku Allah menghapuskan kekafiran, aku adalah Al-Hasyr yang akan menjadi pertama yang dibangkitkan, dan aku adalah al-Aqib (yakni tidak ada Nabi setelahku).” (HR Bukhari)

[14] Salah satu suku Bangsa Arab

[15] Selama 13 tahun setelah beliau menerima wahyu dari Allah

[16] Di kota Madinah

[17] Sebuah mukjizat dari Allah (yang dimaksud adalah bahwa dengan jumlah yang terlihat tidak menckupi  tersebut, Allah lah yang telah mencukupkannya untuk pembayaran hutang Salman kepada majikannya -pent.)

Referensi:

1) Qisaat Islam Salman oleh Husain Al-Uwaisyah.

2) Tabel pada perbandingan Musa, Isa dan Muhammad (shallallah ‘alaihim ajma’in) diambil dari buku, Muhammad in the Bible setelah mengoreksi perkara mengenai kematian Yesus (Isa as.). Yang benar adalah Isa tidak mati. Allah menyelamatkannya dari penyaliban dan dia dinaikkan ke surga. Kematiannya akan terjadi sebelum Hari Kiamat setelah beliau kembali ke bumi. Ketika berada di bumi, Yesus (Isa as.) akan memerintah dengan kitabullah, Al-Qur’an dan dengan ajaran Nabi Muhammad, shallallahu alaihis salam.

Judul Asli  : The Search for the Truth – by a Man Known as Salman the Persian

Penulis  : Dr. Saleh as-Saleh

Judul Terjemahan : Perjalanan Mencari Kebenaran, Seorang Laki-laki bernama Salman al-Farisi

Alih Bahasa  : Ummu Abdillah al-Buthoniyah

Disebarluaskan melalui Website: http://www.raudhatulmuhibbin.org

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s