Memahami Wala'(Loyalitas) dan Bara'(Antipati) dalam Islam

Tidak diragukan, kondisi umat Islam saat ini berada dalam jajahan bangsa kafir. Mereka berada di bawah ancaman kekuatan militer kafir, bahkan yang lebih hebat lagi, mereka juga berada dalam ancaman invasi perusakan akidah. Mereka berusaha melepas Islam dari hati kaum muslimin sebagaimana yang telah dilakukan Yahudi terhadap kaum Nashrani.Yahudi dahulu berusaha membunuh Isa bin Maryam, sementara Nashrani yang memposisikan diri sebagai penolongnya, sehingga terjadi permusuhan yang berjalan bertahun-tahun lamanya. Namun akhirnya, Yahudi berhasil memasukkan paham trinitas (bahwa Allah satu dari yang tiga) dan mengklaimkan ketuhanan Isa yang kemudian diikuti oleh Nashrani.

Perusakan aqidah semacam ini jauh lebih berbahaya daripada penghancuran melalui kekuatan militer.

Mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil, merusak pemahaman Islam dengan menggunakan istilah baru, dan merusak istilah Islam dengan penafsiran yang batil, serta menempatkan dalil bukan pada tempatnya menjadi persoalan aqidah yang harus diwaspadai umat Islam pada saat ini.

Mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil, merusak pemahaman Islam dengan menggunakan istilah baru, dan merusak istilah Islam dengan penafsiran yang batil, serta menempatkan dalil bukan pada tempatnya menjadi persoalan aqidah yang harus diwaspadai umat Islam pada saat ini.

Di antara ajaran Islam yang tidak banyak diketahui oleh umat karena sudah dirusak oleh musuh Islam dan berusaha dicabut dari hati kaum muslimin adalah pemahaman wala’ dan bara’.

Urgensi wala’ dan bara

Al-Wala’ dan al-bara’ atau cinta karena Allah dan benci karena Allah termasuk ikatan Iman yang paling kokoh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

Tali keimanan yang paling kokoh adalah berloyal karena Allah dan memusuhi karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 11.537 dari shahabat Abdullah bin ‘Abbas dan Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1.728)

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانُ

Siapa yang cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan pemberian karena Allah benar-benar telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani)

Siapa yang cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan pemberian karena Allah benar-benar telah menyempurnakan imannya.” al-Hadits

Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, “seseorang bersama siapa yang dicintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ

Seseorang berada di atas agama kekasihnya.” (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga hal jika ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman; apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana bencinya jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas rahimahullah berkata, “siapa yang mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, loyal (membela) karena Allah dan memusuhi karena Allah, telah mendapatkan wilayah (perwalian) dari Allah dengan itu. Dan seseorang tak akan mendapatkan manisnya iman sehingga bersikap seperti itu walaupun shalat dan puasanya banyak.

Apa Makna loyalitas (muwalah)? Kepada siapakah Allah perintahkan kita memberikan loyalitas? Dan kepada siapa pula Allah perintahkan untuk memberikan sikap bara’ (benci dan permusuhan)?

Makna muwalah (berloyalitas) sebagaimana yang disebutkan dalam Lisanul ‘Arab, adalah mencintai, menolong, mengikuti, memberi, dan membantu. Berloyalitas itu lawan dari bermusuhan.

Berikut ini beberapa makna loyalitas:

Allah memerintahkan kita untuk memberikan loyalitas kepada orang beriman dalam firman-Nya,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah: 55-56)

Allah memerintahkan untuk memberikan loyalitas kepada orang beriman dan menghususkan hal itu untuk mereka, Allah berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, . .” (QS. At-Taubah: 71)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “seorang muslim itu saudara muslim lainnya tidak boleh mendzalimi dan menyerahkannya kepada musuh.” (Muttafaq ‘Alaih) Allah hanya menghususkan ukhuwah (persaudaraan) kepada orang Islam saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “sesunguhnya wali-ku adalah Allah dan orang mukmin yang shalih.” (HR. Bukhari)

Firman Allah, “artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabb-mu.” (QS. Al-Mumtahanah: 1)

Allah dan Rasul-Nya menyuruh untuk memberikan loyalitas kepada kaum mukminin. Tidak boleh menyimpangkan makna muwalah (loyaitas) dari makna mencintai, menolong, mengikuti, dan menasihati kecuali kepada orang beriman. Dalam ayat tersebut Allah melarang memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir, memerintahkan agar membenci mereka, berlepas diri dari mereka, kekufuran dan permusuhan mereka terhadap Allah, Rabb semesta alam.

Allah berfirman,

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran 28)

Allah mengabarkan bahwa seseorang yang loyal kepada orang-orang kafir, Dia berlepas diri darinya karena ia meninggalkan loyalitas kepada orang beriman. Tidak akan bersatu dua hal yang bertentangan.

Allah berfirman, “artinya: Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22).

Allah mengabarkan bahwa seseorang yang loyal kepada orang-orang kafir, Dia berlepas diri darinya karena ia meninggalkan loyalitas kepada orang beriman. Tidak akan bersatu dua hal yang bertentangan.

Allah memberitahukan bahwa iman kepada Allah dan hari akhir dan cinta kepada orang kafir tidak akan terkumpul dalam hati seorang mukmin.

Allah memerintahkan kita untuk mengikuti jejak Nabi Ibrahim dalam firman-Nya,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Dalam ayat itu Allah lebih mendahulukan sikap bara’ (berlepas diri) dari orang kafir yang menyembah selain Allah daripada berlepas diri dari sesembahan mereka selain Allah. Karena terkadang seseorang berlepas diri dari setiap yang diibadahi selain Allah namun tidak berlepas diri dari orang yang menyembahnya.

Allah lebih mendahulukan sikap bara’ (berlepas diri) dari orang kafir yang menyembah selain Allah daripada berlepas diri dari sesembahan mereka selain Allah.

Karena terkadang seseorang berlepas diri dari setiap yang diibadahi selain Allah namun tidak berlepas diri dari orang yang menyembahnya.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ  إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ  وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.i“(QS. Az-zukhruf : 26-28)

Makna وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ adalah La Ilaha Illallah yang maknanya berwala’ kepada Allah dan kaum mukminin serta bara’ dari orang kafir dan yang mereka sembah (yang mereka tuhankan).

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Miadah: 51)

Allah melarang kaum mukminin berloyal kepada orang Yahudi dan Nashrani  dan menerangkan kepada mereka haramnya hal itu. Dan Allah memberitahukan, siapa yang mencintai mereka dia termasuk golongan mereka.
Allah juga menerangkan, memberikan loyalitas (kecintaan dan pembelaan) kepada kaum kafir mejadi sebab dilaknatnya umat terdahulu. Hal ini sebagai peringatan agar kita tidak terjerumus sebagaimana terjerumusnya mereka sehingga kemurkaan Allah yang menimpa mereka dahulu juga akan menimpa kita.

Allah berfirman, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.” (QS. Al-Maidah: 78-80).

Dari Amru bin al-‘Ash berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan terang-terangan, “Sesunguhnya keluarga bapakku bukan waliku. Sesunguhnya waliku adalah Allah dan orang beriman yang shalih. Tetapi mereka memiliki hubungan rahim, yang akan aku sambung hubungan dengannya.” (HR. Bukhari)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari keluarganya karena mereka kafir dan meniadakan perwalian dengan mereka.

Inilah sebagian nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah yang menerangkan wajibnya mencintai dan membela kaum mukminin serta berlepas diri, membenci, dan memusuhi orang kafir dan sesembahan-sesembahan mereka.

Ini bagian dasar dari ajaran Islam yang sangat jelas, hanya saja ada beberapa syuhbat yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam dan kaum munafikin yang menjalankan proyeknya orang kafir untuk menyimpangkan pemahaman Islam yang shahih dan aqidah Islam dalam diri umat Islam. (PurWD/Voa-Islam.com)

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s